Selasa, 27 Desember 2011

Cerpen


KABAR BURUNG

                Camar yang meliuk di atas langit yang berlatar biru, bunga-bunga berwarna merah yang dipenuhi tetesan embun dan matahari yang masih tersipu malu, cukup buatku takjub atas kuasa illahi di pagi hari ini. Aku merasa nyaman dengan posisi bangkuku nomor dua dari depan, paling ujung hingga bersebelahan dengan taman sekolah yang dibatasi oleh jendela kelas. Ya, ini adalah kelasku yang sudah dua tahun lamanya kutempati. Banyak sekali peristiwa yang telah terukir di kelas terkompak ini. Seketika, suara setengah berteriak itu mengagetkan lamunanku.
            “Bell.. kok  ngelamun aja, kamu enggak liat apa? Bu Leni sudah masuk kelas dari tadi?”
Ujar Lala.
            “Waduh, tadi aku lagi mikirin sesuatu La.” Jawabku sembari tertawa lebar, aku segera mengambil posisi siap, mengeluarkan buku tulis matematika dan kotak pensil pinkku.  
            “Ada yang tahu kabar Hani? Tidak biasanya, ia tak hadir tanpa keterangan.” Tanya Bu Leni heran.
            Teman-teman sekelasku hanya bisa menoleh satu sama lain. Sebagian besar menoleh bingung. Namun dengan sigap aku segera mengacungkan tangan, “Bu Guru!”.
            “Ya, Bela? Ada apa?” ujar Bu Leni sambil menatapku.
            “Tadi pagi, saya melihat Hani dibawa sejumlah polisi bersama seorang laki-laki tua yang diborgol.”
            Teman-temanku seketika riuh tak karuan, mereka terlihat terkejut mendengar beritaku tadi.
            “Oh ya? Ada apa dengan Hani?” Tanya Bu Leni terkejut.
            “Maaf  Bu, saya kurang tahu, karena saya hanya melihat sekilas kejadian tersebut.” Ujarku jujur.
            Bu Leni hanya merespon dengan anggukan kecil dan dahi yang berkerut, ketika mendengar berita dariku. Deni yang berada di belakang bangkuku, tiba-tiba menyikut lenganku.
            “Hati-hati dengan ceritamu, Bel. Seharusnya cerita tadi kamu ceritakan pada Bu Leni saja di ruang guru. Soalnya cerita itu belum lengkap, kan? Sekarang semua teman sekelas sudah tahu. Aku khawatir kalau ceritamu akan menjadi gosip.” Ujarnya dengan nada menasehatiku.
“Ya, enggaklah, Den. Aku enggak bohong kok. Aku hanya menceritakan apa yang aku lihat.” Jawabku yakin.
Pada jam istirahat pertama, suasana kelas mendadak menjadi sangat ramai, tawaran aneka jajanan di kantin pun sepertinya tak mempan menggoda selera mereka, karena dikalahkan oleh seribu satu pertanyaan tentang keadaan Hani yang masih misteri. Mereka berbondong-bondong menghampiriku dan mulai bertanya-tanya tentang Hani.
“Kapan kau melihatnya?” Tanya Riri.
“Kan sudah kubilang, tadi pagi sebelum berangkat ke sekolah.” Jawabku sambil merapikan buku.
“Apa laki-laki yang diborgol itu, keluarga Hani?” Tanya yang lain.
“Mungkin.” Jawabku singkat.
“Jangan-jangan ayahnya.”
“Ya, mungkin juga.”
“Ayahnya buronan polisi?” Tanya Lala.
“yaa...yaaa.. bisa saja begitu sih.” Jawabku malas.
Deni yang sejak tadi diam saja, seketika menarik lenganku dan menggiringku keluar dari kerumunan anak-anak tadi.
“Jangan begitu dong, Bell. Kabar yang kurang jelas begitu berbahaya, bisa menimbulkan gosip dan fitnah.” Katanya dengan wajah cemas.
“Berbahaya buatku?”jawabku tak peduli.
“Bukan. Buat Hani.” Sahutnya dengan muka sedikit kesal.
Aku diam sebentar “Tapi kan, aku hanya bilang yang aku tahu.”
“Bilang saja pada mereka, agar bertanya pada Hani saat ia masuk nanti. Kalau kamu menjawab dengan kata ‘mungkin’ mereka akan mengambil kesimpulan sendiri.”
“Ih… kamu jangan sok tahu deh. Sudah, aku ada janji dengan Boni. Mau memberikan ini.” Kataku sambil melambaikan selembar amplop berwarna merah dengan motif batik di depan Deni. Ia hanya diam terpaku sembari menatapku dengan senyum kecil di bibirnya.

ßßßðð®ððßßß

Boni adalah salah seorang kawanku di SMP. Ayahku menitipkan sehelai surat untuk
Boni. Dan isinya mengenai lomba karya tulis ilmiah tingkat provinsi jabodetabek, yang akan segera di adakan di kantor ayah.
Aku sering bercerita pada ayah, kalau Boni sering menjuarai lomba karya tulis. Yang aku dengar, ia memiliki banyak pengalaman dalam menghadapi berbagai lomba karya tulis pada tingkat Kabupaten, Provinsi bahkan tingkat Nasional. Hebatnya !. Dan aku yakin jika Boni berminat dan berpotensi untuk mengikuti lomba ini.
Aku bertemu Boni di dekat taman sekolah, sembari menjelaskan sekilas tentang lomba tersebut. Kuserahkan amplop yang ada ditanganku kepadanya. Setelah itu, aku bergegas mengisi perut laparku ke kantin. Setelah menghabiskan mie goreng yang ditemani jus jeruk, aku kembali ke kelas bertepatan dengan bunyi bel masuk.
Pada saat masuk kelas, aku merasa ada yang aneh. Rasanya seperti semua anak-anak di kelas memandangiku sambil berbisik. Tak jarang mereka tertawa cekikikan setiap kali menatapku. Apa itu hanya perasaanku saja, ya? Pikirku dalam hati.
Pada jam istirahat kedua,  aku sudah  tak tahan lagi. Sepertinya bisikan tersebut semakin banyak, dan sesekali kudengar mereka menyebut namaku. Huuft.
Aku mengajak Deni keluar kelas dan bertanya dengan buru-buru, melampiaskan emosiku yang sudah tak terbendung lagi.
“Mereka membicarakan aku ya? Iya, kan? Ada apa sih? Kamu kan enggak kemana-mana ketika jam istirahat. Cerita dong, ada apa?”
Deni tersenyum. “Tadi, Gotti mencari kamu. Dia tanya buku apa yang mau kamu pinjamkan padanya. Lalu aku bilang kamu pergi menemui Bobi.”
Deni diam sesaat.
“Dia bertanya, kenapa kamu pergi menemui Boni. Aku bilang untuk menyerahkan sebuah amplop. Nah, saat itu, kata-kataku terdengar oleh Syifa, Renti dan Gita. Mereka ribut bertanya-tanya, amplop apa yang kamu beri pada Boni.”
“Lalu?” desakku.
“Mereka tanya apa amplop itu berisikan surat?. Aku jawab saja ‘mungkin’. Mereka bertanya lagi, apa itu surat cinta? Aku juga bilang ‘mungkin saja’. Mereka tanya apa kamu naksir Boni?. Aku jawab saja ‘yaa..yaa, bisa saja begitu’.”
“Apaaaa?? Dennii! Kenapa kamu jawab begitu.” ujarku geram.
Deni menjawab cuek. “Lo, aku kan cuma bilang yang aku tahu dan yang aku lihat.”
“Kamu kan bisa suruh mereka untuk tanya padaku secara langsung. Karena bisa-bisa hal tersebut menjadi gosip, yang sama sekali tidak benar adanya. Kenapa sih kamu jawab dengan kata…”
Oopss!.. seketika ku teringat kata-kataku sendiri saat menjawab pertanyaan teman-teman tentang Hani.
“Hahaha…” Deni tertawa cengengesan. Pasti ia dapat menebak yang aku pikirkan. Aku tahu pasti ia berusaha keras mengingatkan tentang sifat burukku itu. Sikapku memang sering tidak peduli. Dan sering mengumbar kabar yang kurang bahkan tidak jelas yang kemudian beredar menjadi gosip dan fitnah.
Aku yakin dan berharap bahwa gosip tentangku pasti akan hilang dengan cepat, karena mereka kan kuberitahu perihal lomba karya tulis ilmiah tersebut. Tapi, apa ya kira-kira yang akan dikatakan Hani saat mendengar gosip tentangnya esok nanti?”
Malam harinya, tuk mengusir rasa penasaranku, ku kukuhkan hatiku dan mulai bertanya pada ayah tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Hani. Rupanya, laki-laki yang diborgol itu bukanlah ayah Hani. Akan tetapi, ia adalah seseorang yang mencoba untuk menculik Hani saat Hani hendak pergi ke sekolah. Beruntungnya, Hani yang cerdik itu dapat meloloskan diri dari penculik tersebut, hingga penculik tua itu tertangkap oleh warga sekitar dan kini meringkuk di balik jeruji besi.
Wah..wah jauh sekali bedanya antara cerita sebenarnya dengan gosip yang beredar saat ini. Maafkan aku ya Hani…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar